“Lho, bapak dari Salatiga?” tanyaku kepadanya.
“Betul, saya berasal dari Salatiga,” jawabnya.
“Pasti pernah berenang di Kalitaman,” saya menebak.
“Betul!” jawabnya. Ada segores senyum di wajahnya.
“Masuknya bayar karcis atau mbrobos?” tanya saya, dirangsang oleh senyumnya.
“Hmm, . . . ,” senyumnya semakin lebar. “Jujur saja. Memang mbrobos, pak.”
“Lha, Bapak kok tahu?” dia balas bertanya
“Karena saya juga, kalau masuk mbrobos,” jawab saya.
“Ha, ha, ha, …,” dia pun tertawa lebih keras.
Dia sudah cukup lama meninggalkan Salatiga dan menetap di Surabaya. Usianya sedikit lebih tua dari saya. Jadi yang kami perbincangkan itu adalah peristiwa tiga puluh lima tahun yang lalu. Namun demikian, kenangan mbrobos Kalitaman ternyata masih kuat membekas diingatannya. Masih bisa membuatnya tersenyum dan tertawa. Mengapa?
Dulu, sekali lagi, dulu . . . kolam renang Kalitaman memang indah. Kolamnya tidak terlalu luas, dengan bebukitan dan tanaman yang rimbun di sekelilingnya. Sangat alami. Airnya, kalau tidak salah, berasal dari mata air. Mengalir, dan sangat jernih. Bebatuan yang ada di dasar kolam sangat jelas terlihat. Lalu? Ya, memang ada bagian yang lebih menarik dari itu.
Saya, kakak saya, dan tiga orang saudara sepupu – semuanya laki-laki – memang selalu ngumpul di Salatiga untuk menghabiskan liburan panjang. Pertama, karena di Salatiga ada nenek kami yang baik hati. Kedua, karena di Salatiga ada Kalitaman, kolam renang yang bisa dinikmati secara gratis. Gratis? Sebenarnya tidak. Seperti layaknya bangunan kolam renang, ada pintu masuk di bagian depannya. Dan di samping loket itu, ada loket penjualan karcis. Tentu saja, kalau mau berenang seharusnya beli karcis dulu, lalu masuk melalui pintu itu.
Itu kalau masuknya resmi. Kami berlima juga masuk, tapi tidak resmi. Itu yang kami sebut mbrobos. Apa bisa? Bisa! Tidak usah beli karcis? Tidak usah! Lewat mana? Nah, ini rahasianya: lewat belakang. Pintu masuk dan loket karcis hanya ada di depan. Di belakang tidak ada loket karcis. Juga tidak ada pintu masuk. Yang ada hanya bebukitan. Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan dengan bebukitan ini? Tentu saja, dipanjat. Itu yang kami lakukan. Dari luar, bebukitan ini nampak seperti sebuah tanggul. Curam dan cukup tinggi, memang. Kalau tidak salah taksir, sekitar tiga atau empat meter. Permukaannya ditumbuhi rumput. Juga beberapa batang perdu liar. Rumput dan perdu liar itulah yang membantu kami memanjatnya. Dan, . . . ups, kami pun berhasil masuk.
Saya tidak ingat berapa kali melakukannya. Sepertinya mbrobos Kalitaman merupakan acara wajib kalau liburan panjang ke Salatiga. Tidak jelas juga, kenakalan semacam itu gagasan siapa. Mungkin kakak sepupu saya. Dia paling berani, dan yang paling tua di antara kami. Sedangkan saya yang paling muda. Umur saya masih sekitar delapan tahun. Jadi tidak mungkin gagasannya dari saya. Tapi toh saya menikmatinya juga. Menikmati? Memang, menikmati. Bayangkan saja bagaimana perasaan saya sewaktu merangkak naik sambil berpegangan rumput dan perdu. Ada tingkat kesulitan tersendiri, tentu. Dan itu berarti ada tantangan. Ada risiko bila terpeleset dan terjatuh. Atau, bahkan bila tertangkap basah bila oleh penjaga atau pegawai kolam renang itu. Entah, hukuman apa yang akan kami terima. Setiap risiko dan bahaya memang selalu menimbulkan rasa tegang. Tapi, juga rasa senang. Ketegangan yang menyenangkan, begitulah. Jangan lupa, di Dunia Fantasi kita malah harus membayar untuk dapat menikmati ketakutan dan ketegangan kita sendiri. Mungkin itu yang membuat kami ketagihan. Tapi mungkin bukan cuma itu.
Kata Amsal, “Air curian rasanya manis, dan makan sembunyi-sembunyi lebih enak.” (Amsal 9:17 BIS). Mandi air kolam Kalitaman itu akan terasa lebih segar jika airnya adalah “air curian.” Masuk Kalitaman secara sembunyi-sembunyi jelas lebih nikmat dibandingkan masuk pakai karcis. Rupanya, di atas setiap kenakalan Iblis membubuhkan topping yang lezat. Di dalam setiap kejahatan ditaburkan bumbu yang sedap. Baik kenakalan kecil atau kejahatan besar, di dalamnya selalu ada daya pikat yang mendorong si pelaku mengulanginya. Daya pikat? Dari mana? Entahlah. Mungkin dari dosa asal warisan Adam dan Hawa, seperti yang dijelaskan para teolog. Atau, mungkin dari sisa-sisa semangat “survival of the fittest” – yang terkuat yang bertahan hidup – dari nenek moyang kita di zaman rimba, yang ternyata belum berhasil kita evolusikan. Entahlah.
Bagi saya, waktu itu, mengalami campur-aduknya perasaan ketika memanjat tebing belakang Kalitaman itu sungguh menyenangkan. Lebih mengasyikkan dari pada segar airnya kolam itu sendiri. Lebih seru kalau dikenang dan diceritakan. Yang jelas, saya mbrobos bukan untuk berenang. Saya tidak suka berenang. Saya bahkan belum bisa berenang. Saya baru bisa berenang sekitar dua puluh tahun kemudian! Aneh? Tidak juga. Saya toh tidak sendirian. Tetangga saya dulu, seorang pemburu, selalu mengulang cerita keberhasilannya menembak babi hutan. Walau dia sama sekali tidak pernah memakan daging hasil buruannya. Dia memang tidak suka daging babi hutan. Hasil yang bisa dinikmati dari sebuah perburuan, yang dilakukannya semalam suntuk itu, adalah perburuannya itu sendiri. Itulah sebabnya, dia selalu menceritakan perburuan itu dengan kebanggaan. Dan, nada suara kebanggaannya akan meninggi sewaktu mengatakan, “Ssst, . . . tahukah kalian? Hutan itu sebetulnya terlarang bagi pemburu, lho.”
Sekarang, coba kenanglah kenakalan Anda sendiri. Jangan sungkan kalau Anda juga tersenyum, atau bahkan tertawa. Kita memang selalu tersenyum dan tertawa ketika bercerita kenakalan masa lalu. Tanpa peduli bahwa ada orang yang sebal mendengar cerita kita.