Kalitaman

Posted Januari 26, 2008 by timot64
Categories: Cermin

“Lho, bapak dari Salatiga?” tanyaku kepadanya.

“Betul, saya berasal dari Salatiga,” jawabnya.

“Pasti pernah berenang di Kalitaman,” saya menebak.

“Betul!” jawabnya. Ada segores senyum di wajahnya.

“Masuknya bayar karcis atau mbrobos?” tanya saya, dirangsang oleh senyumnya.

“Hmm, . . . ,” senyumnya semakin lebar. “Jujur saja. Memang mbrobos, pak.”

“Lha, Bapak kok tahu?” dia balas bertanya

“Karena saya juga, kalau masuk mbrobos,” jawab saya.

“Ha, ha, ha, …,” dia pun tertawa lebih keras.

Dia sudah cukup lama meninggalkan Salatiga dan menetap di Surabaya. Usianya sedikit lebih tua dari saya. Jadi yang kami perbincangkan itu adalah peristiwa tiga puluh lima tahun yang lalu. Namun demikian, kenangan mbrobos Kalitaman ternyata masih kuat membekas diingatannya. Masih bisa membuatnya tersenyum dan tertawa. Mengapa?

Dulu, sekali lagi, dulu . . . kolam renang Kalitaman memang indah. Kolamnya tidak terlalu luas, dengan bebukitan dan tanaman yang rimbun di sekelilingnya. Sangat alami. Airnya, kalau tidak salah, berasal dari mata air. Mengalir, dan sangat jernih. Bebatuan yang ada di dasar kolam sangat jelas terlihat. Lalu? Ya, memang ada bagian yang lebih menarik dari itu.

Saya, kakak saya, dan tiga orang saudara sepupu – semuanya laki-laki – memang selalu ngumpul di Salatiga untuk menghabiskan liburan panjang. Pertama, karena di Salatiga ada nenek kami yang baik hati. Kedua, karena di Salatiga ada Kalitaman, kolam renang yang bisa dinikmati secara gratis. Gratis? Sebenarnya tidak. Seperti layaknya bangunan kolam renang, ada pintu masuk di bagian depannya. Dan di samping loket itu, ada loket penjualan karcis. Tentu saja, kalau mau berenang seharusnya beli karcis dulu, lalu masuk melalui pintu itu.

Itu kalau masuknya resmi. Kami berlima juga masuk, tapi tidak resmi. Itu yang kami sebut mbrobos. Apa bisa? Bisa! Tidak usah beli karcis? Tidak usah! Lewat mana? Nah, ini rahasianya: lewat belakang. Pintu masuk dan loket karcis hanya ada di depan. Di belakang tidak ada loket karcis. Juga tidak ada pintu masuk. Yang ada hanya bebukitan. Kalau begitu, apa yang bisa dilakukan dengan bebukitan ini? Tentu saja, dipanjat. Itu yang kami lakukan. Dari luar, bebukitan ini nampak seperti sebuah tanggul. Curam dan cukup tinggi, memang. Kalau tidak salah taksir, sekitar tiga atau empat meter. Permukaannya ditumbuhi rumput. Juga beberapa batang perdu liar. Rumput dan perdu liar itulah yang membantu kami memanjatnya. Dan, . . . ups, kami pun berhasil masuk.

Saya tidak ingat berapa kali melakukannya. Sepertinya mbrobos Kalitaman merupakan acara wajib kalau liburan panjang ke Salatiga. Tidak jelas juga, kenakalan semacam itu gagasan siapa. Mungkin kakak sepupu saya. Dia paling berani, dan yang paling tua di antara kami. Sedangkan saya yang paling muda. Umur saya masih sekitar delapan tahun. Jadi tidak mungkin gagasannya dari saya. Tapi toh saya menikmatinya juga. Menikmati? Memang, menikmati. Bayangkan saja bagaimana perasaan saya sewaktu merangkak naik sambil berpegangan rumput dan perdu. Ada tingkat kesulitan tersendiri, tentu. Dan itu berarti ada tantangan. Ada risiko bila terpeleset dan terjatuh. Atau, bahkan bila tertangkap basah bila oleh penjaga atau pegawai kolam renang itu. Entah, hukuman apa yang akan kami terima. Setiap risiko dan bahaya memang selalu menimbulkan rasa tegang. Tapi, juga rasa senang. Ketegangan yang menyenangkan, begitulah. Jangan lupa, di Dunia Fantasi kita malah harus membayar untuk dapat menikmati ketakutan dan ketegangan kita sendiri. Mungkin itu yang membuat kami ketagihan. Tapi mungkin bukan cuma itu.

Kata Amsal, “Air curian rasanya manis, dan makan sembunyi-sembunyi lebih enak.” (Amsal 9:17 BIS). Mandi air kolam Kalitaman itu akan terasa lebih segar jika airnya adalah “air curian.” Masuk Kalitaman secara sembunyi-sembunyi jelas lebih nikmat dibandingkan masuk pakai karcis. Rupanya, di atas setiap kenakalan Iblis membubuhkan topping yang lezat. Di dalam setiap kejahatan ditaburkan bumbu yang sedap. Baik kenakalan kecil atau kejahatan besar, di dalamnya selalu ada daya pikat yang mendorong si pelaku mengulanginya. Daya pikat? Dari mana? Entahlah. Mungkin dari dosa asal warisan Adam dan Hawa, seperti yang dijelaskan para teolog. Atau, mungkin dari sisa-sisa semangat “survival of the fittest” – yang terkuat yang bertahan hidup – dari nenek moyang kita di zaman rimba, yang ternyata belum berhasil kita evolusikan. Entahlah.

Bagi saya, waktu itu, mengalami campur-aduknya perasaan ketika memanjat tebing belakang Kalitaman itu sungguh menyenangkan. Lebih mengasyikkan dari pada segar airnya kolam itu sendiri. Lebih seru kalau dikenang dan diceritakan. Yang jelas, saya mbrobos bukan untuk berenang. Saya tidak suka berenang. Saya bahkan belum bisa berenang. Saya baru bisa berenang sekitar dua puluh tahun kemudian! Aneh? Tidak juga. Saya toh tidak sendirian. Tetangga saya dulu, seorang pemburu, selalu mengulang cerita keberhasilannya menembak babi hutan. Walau dia sama sekali tidak pernah memakan daging hasil buruannya. Dia memang tidak suka daging babi hutan. Hasil yang bisa dinikmati dari sebuah perburuan, yang dilakukannya semalam suntuk itu, adalah perburuannya itu sendiri. Itulah sebabnya, dia selalu menceritakan perburuan itu dengan kebanggaan. Dan, nada suara kebanggaannya akan meninggi sewaktu mengatakan, “Ssst, . . . tahukah kalian? Hutan itu sebetulnya terlarang bagi pemburu, lho.”

Sekarang, coba kenanglah kenakalan Anda sendiri. Jangan sungkan kalau Anda juga tersenyum, atau bahkan tertawa. Kita memang selalu tersenyum dan tertawa ketika bercerita kenakalan masa lalu. Tanpa peduli bahwa ada orang yang sebal mendengar cerita kita.

Jangan Sia-siakan Anugerah-Nya!

Posted Januari 25, 2008 by timot64
Categories: Jendela

Seusai kebaktian yang diadakan oleh Billy Graham Crusade, pendeta Ray Stedman naik bis dan duduk bersebelahan dengan seorang pemuda. Pemuda ini ternyata juga hadir dalam kebaktian malam itu dan mengambil komitmen mempersembahkan hidupnya bagi Kristus. Kepada pemuda ini pendeta Stedman menjelaskan lebih lanjut mengenai apa arti hidup baru yang dimilikinya, dan mengatakan bahwa sekarang dia tidak perlu lagi takut terhadap kematian. Pemuda itu menoleh kepadanya, menatap matanya, dan berkata, ”Saya tidak pernah merasa terlalu takut terhadap kematian. Namun, saya akan memberitahukan kepadamu apa yang sesungguhnya saya takuti – saya takut jika saya menyia-nyiakan hidup saya.”

“Saya takut jika saya menyia-nyiakan hidup saya.” Meski pemuda ini dapat digolongkan sebagai petobat baru, kalimat yang diucapkannya sungguh mengagumkan. Kalimat ini mencerminkan penghayatan yang utuh dan matang mengenai kekristenan. Penghayatan seperti inilah yang dimiliki oleh orang-orang Kristen yang dewasa dan bertanggung-jawab. Tanpa penghayatan seperti itu kita akan menjadi orang-orang Kristen yang kekanak-kanakan dan egois. Orang Kristen yang kekanak-kanakan dan egois sangat takut terhadap kematian, tapi orang Kristen yang dewasa dan bertanggung-jawab justru takut jika telah menyia-nyiakan hidupnya. Orang Kristen yang kekanak-kanakan dan egois sangat takut jika dia tidak memperoleh berkat, tapi orang-orang Kristen yang dewasa dan bertanggung-jawab justru takut jika menyia-nyiakan berkat yang telah diterimanya.

Kesempatan hidup yang kita miliki – berapapun yang telah kita jalani, dan berapapun yang masih tersisa di hadapan kita – adalah anugerah Tuhan. Di dalamnya bahkan melimpah pula berbagai bentuk anugerah yang lain: kesehatan, kekayaan, ketrampilan, pekerjaan, pelayanan, keluarga, dan sebagainya. Semua itu adalah pemberian Tuhan yang harus kita gunakan dengan penuh tanggung jawab. Bukan untuk disia-siakan.

Yesus memberikan teguran keras kepada orang-orang yang gagal mempertanggungjawabkan anugerah yang dipercayakan kepadanya. Teguran itu disampaikan-Nya dalam sebuah perumpamaan (baca Matius 25:14-30). Dalam perumpamaan ini ada seorang hamba yang tidak melakukan apa-apa terhadap talenta (yaitu sekantong uang) yang telah dipercayakan oleh tuannyakepadanya. Uang dalam jumlah besar yang seharusnya digunakan sebagai modal itu justru dipendamnya di dalam tanah. Di bagian puncak perumpamaan ini, ketika tuannya datang untuk meminta pertanggungjawaban, hamba tersebut dihardik sebagai sebagai hamba yang jahat dan malas.

Siapakah orang-orang yang pada waktu itu ditegur oleh Yesus sebagai hamba yang jahat dan malas? Siapakah mereka yang tidak bertanggung-jawab atas anugerah yang dipercayakan kepada mereka? Sangat mungkin teguran ini ditujukan kepada para pemimpin agama pada waktu itu, khususnya orang-orang Farisi. Mereka memperoleh anugerah dari Allah karena pengalaman dan pengetahuan keagamaan mereka yang lebih tinggi dari kebanyakan orang. Mereka juga memperoleh anugerah dari Allah yang memberi kepercayaan kepada mereka untuk menduduki jabatan sebagai pemimpin rohani. Namun, mereka ternyata tidak menggunakan anugerah dan kepercayaan itu dengan baik. Keunggulan dalam pengalaman, pengetahuan, dan posisi rohani justru mereka gunakan untuk menekan orang lain. Alih-alih menggunakan anugerah tersebut untuk menolong mereka yang lebih lemah, para pemimpin agama itu malah menambahkan beban kepada mereka (lihat Matius 23:4 dst.).

Kepada kita Tuhan juga memberikan anugerah dalam berbagai bentuk. Di dalam anugerah itu, tentu saja, melekat tanggung-jawab. Karenanya, kesalahan para pemimpin agama di zaman Yesus juga bisa terulang dalam kehidupan kita di masa kini. Sebutan “hamba yang jahat dan malas” juga berlaku bagi kita yang tidak menggunakan anugerah-Nya secara bertanggung-jawab. Dan, semakin besar anugerah dan tanggung-jawab itu kita sia-siakan, akan semakin nyata pula betapa jahatnya dan betapa malasnya kita.

Ada baiknya kita membandingkan kecenderungan kita menyia-nyiakan anugerah Tuhan dengan sikap kita pada umumnya terhadap odol. Ya, maksud saya memang pasta gigi yang kita gunakan setiap hari. Kita tentu berharap menggunakan pasta gigi yang telah Anda beli itu semaksimal mungkin. Ketika pasta gigi itu “sudah habis,” kita masih berusaha mengeluarkannya dari tube-nya yang sudah pipih itu. Kita akan menekan tube pasta gigi itu dari pangkal hingga ujungnya, dan ternyata memang masih ada pastanya yang keluar. Sudah habis? Belum! Keesokan harinya kita menggunakan sendok untuk “menguruttube itu, sekali lagi dari pangkal hingga ujungnya. Dan odol-nya pun keluar lagi. Sudah habiskah, kali ini? “Belum,” kita berkata dengan mantap. Esok pagi kita akan membangunkan suami/ istri kita untuk membantu memegang sikat gigi sementara kita sendiri memberikan gencetan yang lebih kuat kepada tube yang sudah benar-benar pipih itu. “Betul, kan … masih ada!” kita berseru gembira. Bahkan, sebagai usaha terakhir, kita mungkin akan “tega” menggunakan pisau atau gunting untuk membedah tube itu dan mengorek habis sisa pasta yang masih melekat di dalamnya. Mengapa kita rela berjuang sedemikian rupa? Kita tidak ingin ada bagian dari pasta itu – meski bagian yang sangat kecil sekali pun – yang terbuang sia-sia.

Betapa indahnya bila sikap yang gigih itu juga kita terapkan untuk setiap anugerah yang kita terima dari Tuhan. Betapa indahnya bila kita juga berusaha agar tidak ada sedikitpun anugerah-Nya yang kita buang dengan sia-sia. Jika kita penuh tanggung-jawab menggunakan setiap anugerah pemberian-Nya, maka kita tidak perlu berkecil hati memikirkan besar atau kecilnya anugerah tersebut. Kita juga tidak akan mempersoalkan besar kecilnya kesempatan dan kepercayaan yang dipercayakan kepada kita. “Lima kantong” atau “satu kantong”, jangan sia-siakan anugerah-Nya!